Perkara Rindu
Perkara rindu itu berat
Bahkan melalui syairmu tak mampu mengobati
Mengayalkan bahagia itu sulit
Lebih-lebih harus menciptakannya tanpamu
Perkara rindu itu berat
Bahkan pertemuan tak kunjung menuai kata jenuh
Tak ada yang beda dengan tatapanmu hari itu
Kurasa masih tetap hangat, meskipun keangkuhan begitu tebal menyelimutimu
Perkara rindu, ya kurasa itu memang berat
Lebih-lebih, ketika engkau lupa arti pertemuan dan kecupan sebagai perpaduan
Kamis, 27 April 2017
Jumat, 04 Desember 2015
KEMARAU MENYENGATKU
RinduMengenalmu menjadikan ku kemarau berkepanjanganMengusungmu mebuatku terjaga semalamanMengabaikanmu membentuk ruang di jantungkuPagi ini nadiku menciutTakut ingin mengaduKemarauku melepuh menjadi rinduAku telah melihat Tuhan pada sosokmuSingkatnya lari dari seseorang itu mungkinTapi bagaimana caraku lari dari TuhanKu usung ulang ingatan tentang selarik karyamuAku si gadis pipi merah yang terlalu angkuh untuk jatuhDan engkau lelaki bermata senduBerwajah sedingin saljuSering kali menghunus pena ke jantung sepiMenjadikan butiran-butiran puisiHarusnya tak kau tanamkan kata-kata di dasar jantungkuKarna rimbun puisimu kini menyengatku menjadi rindu
Minggu, 28 Juni 2015
PENSIL
Kulilitkan jemariku untuk meraih pensilku di ujung meja
Seraya ingin meluapkan perasaan jiwa yang mendera
Arang hitam di ujung kayu kini menjamah kertas di hadapanku
Mengusung akal tentang sosok yang melemahkan hati
Engkau ?
Kini pensilku telah melukiskanmu
Begitukah cinta ? selalu kokoh
Semenjak manusia tercipta, bersama itu pula cinta mengada
Pensil milikku tak benar-benar merenggut engkau
Menggetirkan jiwa, saat menggoreskannya kepada kertas
Mengapa ? pensilku menghianati akalku
Dia memilih merangkak dengan utusan hati
Sabtu, 06 Juni 2015
Bilik Kehidupan
Aku
Sungguh lucu jika pikiranku sibuk menjamahi hidupku
Dengan balutan paras yang solek
Tapi? Apa ini?
Seolah-olah aku iblis yang menjelma menjadi peri
Aku
Aku tak mengerti tuhan
Engkau mempermainkanku menjadi lakon ini
Semacam aku hanya hidup dengan ragaku tanpa secuil hati
Seperti hidup dalam arus
Yang usang pernah ku dengar
"Jangan jadi ikan mati, yang mengikuti arus air membawanya"
Tapi apa, aku tak mempunyai daya yang kokoh untuk menerjang
Aku
Ini bukan hal tabu
Aku sering menjumpai
Seseorang telah meninggalku
Karna ke iblisanku
Aku membiarkan orang lain pergi meninggalkanku
Karna aku telalu sibuk dengan hidupku
Menjamah pikiranku, "mengapa ? tidak bisakah untuk bersama ?"
Aku
Perempuan iblis yang melukai hati-hati kaumku
Dengan mengambil tahtanya untuk mengabdikan hidupnya padaku
Inilah aku, yang lupa akan kekejamannya yang begitu besar kepada orang lain tapi selalu mengingat kekejaman orang padahal begitu kecil padaku.
Aku
Bebal, mungkin setiap orang akan mengguncingku dengan kata itu
Aku berhenti peduli pada engkau yang mencapakkan perempuanmu
Kembalilah, yakinkan dia
Engkau hanya masuk ke dalam bilik yang salah
Sungguh lucu jika pikiranku sibuk menjamahi hidupku
Dengan balutan paras yang solek
Tapi? Apa ini?
Seolah-olah aku iblis yang menjelma menjadi peri
Aku
Aku tak mengerti tuhan
Engkau mempermainkanku menjadi lakon ini
Semacam aku hanya hidup dengan ragaku tanpa secuil hati
Seperti hidup dalam arus
Yang usang pernah ku dengar
"Jangan jadi ikan mati, yang mengikuti arus air membawanya"
Tapi apa, aku tak mempunyai daya yang kokoh untuk menerjang
Aku
Ini bukan hal tabu
Aku sering menjumpai
Seseorang telah meninggalku
Karna ke iblisanku
Aku membiarkan orang lain pergi meninggalkanku
Karna aku telalu sibuk dengan hidupku
Menjamah pikiranku, "mengapa ? tidak bisakah untuk bersama ?"
Aku
Perempuan iblis yang melukai hati-hati kaumku
Dengan mengambil tahtanya untuk mengabdikan hidupnya padaku
Inilah aku, yang lupa akan kekejamannya yang begitu besar kepada orang lain tapi selalu mengingat kekejaman orang padahal begitu kecil padaku.
Aku
Bebal, mungkin setiap orang akan mengguncingku dengan kata itu
Aku berhenti peduli pada engkau yang mencapakkan perempuanmu
Kembalilah, yakinkan dia
Engkau hanya masuk ke dalam bilik yang salah
Jumat, 29 Mei 2015
Ayahanda
(Sebuah Persembahan Untuk Yang Selalu Memanjakanku)
Hari ini ku abadikan perjalananmu 19 tahun ini
Ayah, ntah apa yang akan ku deskripsikan tentangmu kali ini
Senja di pelupuk mata kita rasakan disepanjang perjalanan
Engkau nampak gembira menceritakan ini itu disepanjang jalan
Maaf ayah, jika selama ini aku hanya bisa membuatmu cemas
Senyum-senyum mungilpun kadang muncul dari bibirku
"mengapa ayah selalu mencemaskanku, dengan usiaku yang udah mencapai 19 tahun ini ?"
Kini aku terjengah, aku sadar kasih sayangmu memang tak akan pernah usai
Ku lihat matamu tak jauh beda dengan mata yang ku lihat setaun yang lalu
Teramat kental cahaya sedu yang ada dibola matamu
Ingin rasanya aku menepi dan berteduh dihamparan keluh kesahmu ayah
Tapi engkau terlalu angkuh, tak ingin putrimu merasakan kesusahan yang engkau hadapi
Dua tahun ini memang masa-masa pait
Karna cita-citamu kembali menunaikan ibadah dengan ibunda tak kunjung datang
Apalagi engkau membawa jama'ah-jama'ah yang begitu banyak
Tetap gagah menghadapi jurang ini ayah
Kelak batupun akan melebur membuatnya menjadi debu yang tertiup angin
Hari ini ku abadikan perjalananmu 19 tahun ini
Ayah, ntah apa yang akan ku deskripsikan tentangmu kali ini
Senja di pelupuk mata kita rasakan disepanjang perjalanan
Engkau nampak gembira menceritakan ini itu disepanjang jalan
Maaf ayah, jika selama ini aku hanya bisa membuatmu cemas
Senyum-senyum mungilpun kadang muncul dari bibirku
"mengapa ayah selalu mencemaskanku, dengan usiaku yang udah mencapai 19 tahun ini ?"
Kini aku terjengah, aku sadar kasih sayangmu memang tak akan pernah usai
Ku lihat matamu tak jauh beda dengan mata yang ku lihat setaun yang lalu
Teramat kental cahaya sedu yang ada dibola matamu
Ingin rasanya aku menepi dan berteduh dihamparan keluh kesahmu ayah
Tapi engkau terlalu angkuh, tak ingin putrimu merasakan kesusahan yang engkau hadapi
Dua tahun ini memang masa-masa pait
Karna cita-citamu kembali menunaikan ibadah dengan ibunda tak kunjung datang
Apalagi engkau membawa jama'ah-jama'ah yang begitu banyak
Tetap gagah menghadapi jurang ini ayah
Kelak batupun akan melebur membuatnya menjadi debu yang tertiup angin
Minggu, 24 Mei 2015
Harapan Terakhir Kawan
Mungkin engkau adalah orang kesekian yang ku buat remuk hatinya
Yang tersakiti oleh tajamnya penaku
Mungkin engkau adalah orang kesekian yang ku buat patah hatinya
Yang tersakiti oleh kejamnya sikapku
Mungkin engkau adalah orang kesekian yang ku buat pedih hatinya
Yang tersakiti oleh kerasnya prinsipku
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini engkau merasa hidupmu mati, hatimu rikih, bagaikan kehilangan degup
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini akan ada kebisingan dalam pikiranmu yang mudah diserang kesedihan berlebih
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini engkau akan terus menulis puisi , seperti tak ingin melepaskan pelukan lengan-lengan sedihmu
Maaf
Maaf
Maaf
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah remuk hatimu
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah patah hatimu
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah pedih hatimu
Aku berharap , rasa mati hidupmu hanya akan berselang beberapa minggu saja
Aku berharap, rasa kebisingan dalam pikiranmu hanya akan berselang beberapa minggu saja
Dan ini harapanku yang terakhir, lanjutkan menulis puisi tapi jangan kesedihanmu
Tetaplah berproses kawan, kini kau bukan kekasihku melainkan kawan, kader dan sahabat
Jadilah dewasa dan jangan lupa bahagia
Yang tersakiti oleh tajamnya penaku
Mungkin engkau adalah orang kesekian yang ku buat patah hatinya
Yang tersakiti oleh kejamnya sikapku
Mungkin engkau adalah orang kesekian yang ku buat pedih hatinya
Yang tersakiti oleh kerasnya prinsipku
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini engkau merasa hidupmu mati, hatimu rikih, bagaikan kehilangan degup
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini akan ada kebisingan dalam pikiranmu yang mudah diserang kesedihan berlebih
Aku tau, mungkin untuk beberapa minggu ini engkau akan terus menulis puisi , seperti tak ingin melepaskan pelukan lengan-lengan sedihmu
Maaf
Maaf
Maaf
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah remuk hatimu
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah patah hatimu
Aku tak memberikan alasan untuk kata maafku, aku tau itu akan menambah pedih hatimu
Aku berharap , rasa mati hidupmu hanya akan berselang beberapa minggu saja
Aku berharap, rasa kebisingan dalam pikiranmu hanya akan berselang beberapa minggu saja
Dan ini harapanku yang terakhir, lanjutkan menulis puisi tapi jangan kesedihanmu
Tetaplah berproses kawan, kini kau bukan kekasihku melainkan kawan, kader dan sahabat
Jadilah dewasa dan jangan lupa bahagia
Aku Ini Miskin
Ini teruntuk engkau kekasihku, ini yang kau minta bukan? engkau mengharapkan adanya kamu di tulisanku
Engkau tau ini bukan tulisan yang isinya bahagia
Engkau tau ini bukan kisah cinta yang biasa dijalani kaum adam hawa
Aku telah mencoba mencintaimu
Seolah aku tak pernah terluka
Aku telah mencoba nyalakan api untukmu
Seolah aku tak pernah terbakar
Dan aku telah mempertaruhkan segalanya
Seolah aku tak pernah kalah
Engkau tau aku terpaksa melakukannya
Sekarang engkau masih akan menyalahkanku?
Jika cintaku tak tulus
Jika apiku tak membara
Jika Pengorbananku tak menang
Engkau tau jawabannya mengapa tidak seperti yang kau harapkan
Engkau masuk kedalam hati yang didalam hati itu masih ada hati
Aku tak pernah melupakan cintaku
Karna aku tau bukan kamu orang yang bisa menghilangkannya
Sekarang jika engkau mengira aku telah bermain hati dengan orang lain, bukankah itu sudah kulakukan saat kita menjalinnya
Sekarang, jangan cintai aku sedalam ini !
Aku ini miskin hati
Rona muka dan manis senyum dari bibirku, hanyalah duka yang menyamar
Langganan:
Postingan (Atom)